Lompat ke konten

Santri Pondok Gontor Dikenalkan Dunia Bisnis Lewat Studi Ekonomi di Jepara

JEPARA, Lingkarjateng.id Kabupaten Jepara menjadi destinasi tujuan rihlah iqtishadiyyah tarbawiyyah atau studi ekonomi dan pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putra Ponorogo.

Pada studi kali ini, sebanyak 90 santri Pondok Gontor mengunjungi pusat kerajinan kayu atau mebel, batik dan tenun torso khas Jepara, rebana dan kerajinan lainnya.

Rihlah iqtishadiyyah tarbawiyyah bertujuan mengenalkan santri Pondok Modern terhadap dunia bisnis atau usaha dan diharapkan dapat menjadi bekal ilmu jika kedepan berencana menjadi entrepreneur pasca masa studinya.

Fadhlan selaku pemilik Mahkota Rebana menyambut kedatangan para santri Pondok Gontor. Pada kesempatan itu ia menceritakan awal mula usahanya dirintis dari nol pada tahun 1999. Usaha yang ia tekuni itu masih beroperasi hingga saat ini. Selama ini produksi rebana yang dikerjakan merupakan pesanan pelanggannya.

Dari usaha rebana tersebut, ia bisa meraih omzet sekitar Rp100 juta hingga Rp200 juta setiap bulan. Fadhlan juga mengaku senang menggeluti profesi sebagai pengrajin rebana karena karyanya mendukung kegiatan yang positif seperti sholawatan.

“Berkat sholawat, uripe nikmat (hidupnya nikmat),” ujar Fadhlan, Rabu, 6 Maret 2024.

Ia menjelaskan, rebana yang dijual pun bervariasi modelnya dengan harga sesuai pesanan. Harga satu set yang terdiri dari 9 alat yaitu Banjari 4pcs, Tam 1pcs, Bas 1pcs, Darbuka 1pcs dan keprak 2pcs dijual  dari harga mulai Rp2.500.000 untuk satu set hadroh biasa (polos), Rp2.750.000 untuk satu set hadroh motif dan Rp3.000.000 untuk satu set hadroh ukir.

“Kami biasa mengerjakan satu set rebana selama 7 -10 hari, tergantung model dan cuaca pada proses pembuatan,” tambahnya.

FOTO BERSAMA: Santri Pondok Gontor saat studi ekonomi di Mahkota Rebana, Kabupaten Jepara pada Rabu, 6 Maret 2024. (Muhammad Aminudin/Lingkarjateng.id)

Menurutnya, kendala yang dihadapi selama menjadi pengrajin rebana adalah saat musim hujan karena proses penjemuran sangat penting dalam membuat rebana agar memberikan hasil yang maksimal.

Jepara, kata Fadhlan, terkenal dengan pengrajin rebana yang mempunyai kualitas nomor satu mulai dari pemasangan kulit, finishing dan kualitas kayunya. Ia mengaku banyak pengrajin di luar Jepara yang membeli rebana mentahan (belum finishing) dari Jepara.

“Kayu yang kami gunakan di sini ada dua jenis, kayu mahoni dan nangka,” tambahnya.

Sementara itu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo KH. Hasan Abdullah Sahal, KH. Amal Fathullah Zarkasyi dan KH. Akrim Mariyat yang diwakili oleh Agus Mulyana sekaligus pembimbing dari Rihlah Iqtishadiyyah Tarbawiyyah menjelaskan bahwa para murid tidak hanya dibekali ilmu agama dan umum serta teori, melainkan dibekali juga dengan pengalaman praktikum di lapangan. Dengan harapan mereka bisa mengamalkan ilmunya dan pengalamannya di masyarakat nanti.

“Dengan kegiatan ini, kami bekali mereka dengan wawasan untuk menjadi pengusaha di masa mendatang,” terang Agus.

Menurut Agus banyak usaha atau bisnis di Jepara, namun pihaknya beberapa usaha yang mana bisa dan mampu untuk dilakukan oleh para murid. Selain itu, motivasi yang ditanamkan kepada para murid untuk memiliki jiwa entrepreneur itu juga penting.

“Kami berharap ini bisa menjadi gambaran bagaimana membangun dan mengelola bisnis bagi murid-murid,” tambahnya. (Lingkar Network | Muhammad Aminudin – Lingkarjateng.id)