Lompat ke konten

Santri Gontor Belajar Bisnis dengan Pelaku Usaha Tenun Troso di Jepara

JEPARA, Lingkarjateng.id Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putri Ngawi menggelar acara Rihlah Iqtishodiyyah Tarbawiyyah atau dikenal dengan Studi Ekonomi dan Pendidikan di Kabupaten Jepara, pada Rabu, 6 Maret 2024.

Kegiatan ini merupakan pengenalan para santri terhadap dunia bisnis, sehingga setelah lulus mereka diharapkan bisa menjadi pelaku usaha.

Salah satu yang menjadi objek tujuan dari kegiatan ini adalah Kain Tenun Troso yang terletak di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Rombongan terdiri dari 84 santri dan 8 ustadz dan ustadzah.

Tenun Troso merupakan salah satu budaya khas Jepara. Selain diperkenalkan dari sisi bisnisnya, para santri juga diperkenalkan dari sisi budayanya.

Siti Hanifah, salah satu pelaku usaha tenun Troso yang didatangi oleh romongan dari PMDG menjelaskan, dirinya sudah menggeluti dunia usaha tenun ini selama 30 tahun.

Ia mengaku pernah mengalami bangkrut sebanyak dua kali selama menjalani usaha Tenun Troso ini.

“Usaha ini turun temurun dari kakek, orang tua, kemudian saya. Dua kali saya bangkrut pada tahun 1989-1991, dan 2002-2022,” jelasnya saat memberikan keterangan kepada Lingkar.

Ia menambahkan bahwa, kebangkrutan yang ia alami karena faktor kurangnya pemasaran, modal, dan kondisi kesehatan yang kurang prima.

Namun pihaknya tetap bertekad untuk terus menekuni usaha ini karena sudah lama terjun dan sudah paham cara kerjanya, mulai dari pembuatan, pewarnaan, dan pengecekan kualitas.

“Proses pembuatan kain tenun antara lain, ngeteng, nyorek, nali, menter, mbatil, mbungkar, malet dan menenun,” paparnya.

Ia mengungkapkan, pada awal mulai usaha ini, ia hanya mempunyai 2 alat tenun. Namun sekarang sudah ada 8 alat, 3 diantaranya sudah menggunakan mesin, dan sisanya masih manual.

Ia menerangkan bahwa, pascabangkrut pihaknya merubah sedikit metode pemasaran. Sehingga sekarang ini pihaknya tidak perlu menjual kemana-mana, tapi para pemborong yang datang sendiri ke sini.

Ia bahkan bisa meraup omzet sekitar Rp 100 juta per bulan.

“Saya bisa memproduksi dalam seminggu sekitar 400-500 kain. Dengan omzet sekitar Rp 100 juta per bulan,” ungkapnya.

Sementara itu Pimpinan PMDG Putri 2, Alwi Yusron yang diwakili oleh Henry sekaligus sebagai pembimbing Rihlah Isqtishadiyyah Tarbawiyyah menjelaskan, ke depannya para santri atau murid PMDG diharapkan bisa belajar memulai usaha dan mengelola.

Hal ini karena dalam perjalanan bisnis, tidak selamanya mulus atau untung terus, namun  ada kalanya mengalami rugi bahkan bangkrut.

“Semoga murid-murid bisa mengambil pelajaran dan menerapkan ketika sudah lulus dari pondok,” jelasnya saat dimintai keterangan.

Ia berharap para murid sudah memiliki bekal ilmu bisnis ketika terjun ke masyarakat, selain ilmu yang mereka dapatkan di bangku sekolah dan pondok.

Selama kegiatan berlangsung, para murid tampak sangat antusias dan aktif terhadap kegiatan ini.

Ia berharap, para murid dapat melestarika budaya Indonesia salah satunya Tenun Troso.

“Kami berharap para murid bisa lebih mengenal budaya dan melestarikan budaya Indonesia, salah satunya adalah Tenun Troso ini,” harapnya. (Lingkar Network | Muhammad Aminudin – Lingkarjateng.id)